Sunday, December 01, 2013

My 2nd DIY Project


Kebetulan misi DIY Project kali ini bertepatan dengan acara year-end dinner yang dilaksanakan setiap tahunnya bersama beberapa teman. Ada semacam tradisi dimana kita saling bertukar kado dengan limitasi budget tertentu. Kado tersebut kemudian dibungkus dan ditukarkan berdasarkan undian yang telah diambil. Seru sekali mengingat kadang kado yang kita dapatkan sungguh tak terduga. Tahun lalu saya mendapatkan 2 buah kuteks NYX. Lumayan buat menggenapi koleksi kuteks.

Untuk tahun ini, beberapa minggu sebelum acara memang sudah dipersiapkan waktu khusus untuk membeli kado. Setelah beberapa ide muncul akhirnya kado sudah dipilih. Masalah muncul ketika sampai rumah saya lupa untuk membeli bungkus untuk kado tersebut. Terinspirasi setelah membaca Martha Steward Living edisi Desember, maka saya memutar otak untuk mencari bahan-bahan pembungkus kado. 

Saya teringat akan kotak yang dulunya wadah dompet dan juga kertas bermotif unik hasil koleksi saya semasa sekolah dulu. Dan prakarya pun dimulai. Berkat alat2 perekat dulu di kantor serta bantuan gunting serta alat tulis maka mulailah saya bergerilya menghias kotak tersebut.


Alat-alat yang digunakan : box, kertas pembungkus, gunting, double tape, pensil, penggaris dan penghapus.


Step 1 : Kertas pembungkus diukur sesuai ukuran box kemudian direkatkan menggunakan double tape.
Aplikasikan juga di sisi-sisi yang lain.

Step 2 : Rekatkan ujung-ujung bidang box dengan selotip tranpasaran

Asumsinya kotak ini nantinya bisa jadi wadah untuk menyimpan barang lainnya, bisa jadi untuk aksesoris. Et voila, akhirnya kotak wadah kado pun siap untuk diberikan pada acara dinner Jumat esok


Thursday, September 05, 2013

Waisak Trip

Hiasan Lampion di Sam Poo Kong
Trip ini hanya selang sebulan dari trip Bali sebelumnya, yaitu tanggal 25-26 Mei 2013. Tiket juga sudah dibeli jauh-jauh hari, bulan September 2012 kalau tidak salah. Sesungguhnya saya terinspirasi 2 hal, pertama kisah teman saya tahun sebelumnya ke Borobudur guna mengikuti prosesi Waisak dan kedua karena menonton Arisan2.

Maka berangkat lah saya dan 4 teman saya yang lain. Sabtu (25/5) pagi kami sudah berada di bandara SHIA dengan tujuan Semarang. Kenapa Semarang? Karena pada saat itu tiket tujuan Yogyakarta sudah melambung tinggi dari segi harga.  Rencananya kami akan mengambil jalan darat menuju Magelang pada hari yang sama. Sampai lah kami siang hari dan langsung menuju Magelang.

Di perjalanan yang saat itu sangat padat (kemungkinan besar semua orang memiliki tujuan yang sama), atas rekomendasi teman saya, Tanya, kami mencoba tahu baxo Bu Pudji di daerah Ungaran, Semarang. Kebetulan memang searah perjalanannya. Pertama kali mencoba dan saya jatuh hati. Sesungguhnya rasanya tak lain seperti gorengan tahu isi biasa tapi menurut saya tahu ini enak sekali rasanya.

Selanjutnya kami berhenti di kopi Banaran. Sekitar 2 setengah jam kemudian kami sampai di Magelang dan langsung menuju Hotel Sriti. Hotelnya cukup nyaman dan bersih. Beres-beres sejenak lalu kami mencari makan di dekat hotel, tepatnya di rumah makan “Es Eny”. Makanan disini mengingatkan saya pada masa kost dulu, dimana prasmanan makanannya. Dan yang paling menarik adalah es-es an yang disajikan, seperti es Cinderella, es kangen, es anti stress, es asmara, es tersanjung, es hatiku hatimu, es tenda biru, es biarkan ku sendiri, es jatuh cinta, es ini rindu dan es kemesraan. Yang saya sebutkan itu hanya sebagian dari nama es yang dijual. Menarik sekali. Namun karena dikejar waktu maka saya akan mencobanya esok hari.

Perjalanan dilanjutkan menuju Borobudur yang memakan waktu 30-45 menit. Cuaca agak mendung dan jas hujan sudah siap untuk dikeluarkan. Pertama kali masuk ke Borobudur memang sangat membuat merinding. Ratusan orang memanjatkan doa tak henti sampai hujan mengguyur tempat upacara. Benar-benar sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Lampion tidak jadi diterbangkan malam itu. Tidak masalah bagi kami mengingat kebersamaan yang utama. Kami menutup malam itu dengan minum wedang ronde dan menenggak tolak angin. Umur memang tak bisa berbohong. Hahaha

Keesokan harinya, sehabis breakfast saya memutuskan untuk mencoba es-es an dari rumah makan Es Eny. Segar sekali rasanya menikmati es serut dengan potongan buah segar.

Es Buah


Tak jauh dari lokasi rumah makan tersebut, saya sekilas melihat sebuah bangunan unik. Dengan berjalan kaki, saya pun tempat tersebut yang ternyata merupakan musem OHD. Sayang sekali saya hanya membawa uang pas-pasan dari hotel sehingga tidak bisa masuk ke dalam museum. Namun di taman dan toko buku serta kantinnya, desain ruangan sangat menarik hati.


OHD (tampak depan)


Lampu 


Tak lama, saya dan teman-teman meninggalkan Magelang untuk mengejar penerbangan dari Semarang. Melewati Ungaran, Semarang, kami mampir ke rumah makan Ibu Pudji. Kali ini tahu baxo disajikan di dalam bakso kuah. Nyam. Selanjutnya karena masi ada waktu, kami pergi ke Sam Poo Kong. Nuansa Waisak masi terasa karena beberapa orang terlihat sedang khusyuk berdoa. Akhirnya kami menuju bandara dan pulang ke Jakarta. Liburan cukup singkat namun penuh dengan hal-hal seru.








My First DIY Project


Awal Do It Yourself, DIY project ini sesungguhnya datang dari kebutuhan akan kalung guna menghiasi padu padan dalam berbusana, khususnya dress untuk pergi kawinan. Hampir tiap minggu selalu saja ada undangan pernikahan dari teman, sahabat dan kerabat. Mungkin memang sudah waktunya kali ya. Hahaha sudahlah.

Ada yang bilang “little black dress” merupakan items yang harus dan wajib dimiliki oleh perempuan dalam berbusana. Coba cek lemari Anda, pasti ada sedikitnya satu dress berwarna hitam. Terinspirasi pula oleh film “Breakfast at Tiffany’s” dimana posternya memuat busana Audrey Hepburn dengan memakai kalung mutiara.  Saking inginnya kalung tersebut, saya berburu ke beberapa toko, sampai ke toko kerajinan tangan. Namun ketika saya ke Mayestik, iseng-iseng mencari bahan-bahan kalung ke Toko Maju.

Mutiara & Senar

 Pengait Kalung 


Toko ini cukup ajaib menurut saya. Segala hal dari renda, manik-manik sampai jarum pun ada. Kemudian saya menemui mas-mas nya guna menanyakan kalung tersebut. Untungnya si mas-mas yang saya tanyai cukup membantu dengan menyarankan untuk membeli senar, pengait dan juga sekotak mutiara. Wah senang sekali rasanya. Prakarya setelah sekian lama. Terakhir mungkin prakarya itu jaman SD-SMP. Hasilnya 2 kalung dan 1 gelang berhasil dibuat. Ihiy bahagia rasanya. Bahkan kalo saya bisa, saya ingin tinggal di dalam Toko Maju. Hahaha


2 kalung, 1 gelang


Mudah-mudahan DIY project ini berlangsung untuk hal-hal lainnya.

Tuesday, August 13, 2013

Cara Kita Melihat Dunia


Cerita ini bermula dari tayangan Nat Geo Adventure tentang Mega Food. Diceritakan bagaimana situasi dan kondisi dapur dengan chefnya di sebuah kapal pesiar yang berlayar 1 minggu lamanya. Saya jadi teringat dengan teman saya yang baru saja berlayar untuk menjadi bagian dari perjalanan semacam itu.
Perjalanan teman saya ini bermula dari Alaska dan berakhir di Asia. Teman saya ini, hanya bisa keluar dari kapal kalau tidak salah 1 kali 1 minggu dengan durasi 2 jam berkeliling di daerah singgah kapal.

Yang ada dalam benak saya adalah menjadi bagian dari perjalanan itu pastinya akan membuka cara pandang seorang pribadi dalam melihat dunia. Bahwa kesempatan untuk keluar dari zona nyaman dan menantang diri sendiri untuk pergi ke tempat yang belum pernah disinggahi akan mengubah pola pikir kita.

Terkadang hal kecil pun bisa merubah pola pikir kita dalam melihat dunia. Sebagai contoh, terkadang kita cenderung untuk mengejar kesenangan duniawi saja. Setiap harinya kita dimanjakan oleh iklan iklan tentang sale pusat perbelanjaan, hunian terkini, gadget terhandal dan mobil keluaran terbaru. Pikiran di kepala lalu berterbangan, besok ingin ini itu seperti yang ada di televisi. Nyatanya, kita terkadang melupakan bahwa hidup itu ibarat 2 sisi koin. Bahwa ada kehidupan lain yang berdampingan dengan kita dan membutuhkan perhatian.

Baru-baru ini saya melakukan puasa sosial media selama 1 bulan penuh. Mungkin karena jenuh juga dan ingin melakukan detox pikiran selama bulan puasa. Perbedaan cukup signifikan terjadi ketika saya tidak lagi disibukkan scrolling berita tiap saat. Selain itu, jam ntn tv pun dikurangi. Hasilnya cukup membuat saya lebih rileks. Lebih peka dengan keadaan sekitar, misalnya untuk bersosialisasi dgn orang rumah.  Uniknya lagi, jadwal tidur lebih teratur lataran kegiatan browsing tengah malam sudah jarang dilakukan. Tidak dapat dipungkiri bahwa selama ini saya dan sebagian besar orang seakan haus akan informasi dan terjebak di dunia digital khususnya sosial media. Padahal dalam keseharian, ada dunia yg lebih dekat, yaitu orang-orang terkasih di lingkungan rumah dan juga teman dekat.

Ada baiknya kita berhenti sejenak dari rutinitas kita dan merefleksikan apa yang sebenernya terjadi disekitar kita. Mana yang penting, mana yang tidak. Memilah-milah skala prioritas dalam hidup. Karena seringkali kita terjebak dengan dunia yang kita buat sendiri. Ubah cara kita memandang hidup dari hal-hal kecil, bagi saya misalnya dengan mengurangi frekuensi mengecek akun sosial media.

Monday, May 20, 2013

Travel and Beyond : Bali

Sering kali status jejaring sosial kawan berbunyi :

"Duh, males packing"

Tersirat  dua hal, beneran males atau mau kasih tau kalo akan berlibur haha

Oh wait? Berlibur?? *ga boleh iri*


Pantai Sanur, September 2012

Mungkin ini menjadi hal yang diidam-idamkan pada saat skrg. Ketika kita sedang penat dengan pekerjaan atau sekedar mencari suasana baru. Dan saat ini bukan hanya sale di mall-mall terkemuka yang membuat gelap mata. Yang terjadi skrg adalah kepanikan ekstra di kalangan teman2 ketika menemukan berita sale tiket pesawat. Hasilnya 2 tiket ditangan hasil kekalapan sesaat dengan waktu penerbangan nyaris setahun kemudian. Antara puas dan akhirnya lupa kapan brangkatnya. haha

Terkadang sesuau yang impulsif menghasilkan 2 hal yang berbeda : kesenangan dan prahara. Kesenangan karena akhirnya bisa berlibur dengan tiket murah dan hebatnya bersama sahabat2. Prahara karena tiket dibeli dengan hasil kerja keras sebulan dan apesnya ketika pergi, uang jajannya pas2an. 

Terlepas dari itu semua, ada rasa kangen untuk pergi ke sebuah tempat baru dan melakukan kegiatan baru. Baru2 ini saya melakukan hal itu dengan naik sepeda yang jaraknya 21km dengan tanjakan yang aduhay, sampai2 teman saya minta tolong anak SD yang lewat untuk membantunya mendorong sepeda. Awalnya bike tour ini saya pikir akan sama dengan yang saya lihat di film Eat Pray Love. pengaruh Bali mgkn ya. Nyatanya, tipikal anak yang jarang olahraga, rasanya kaki ini mau patah *hiperbola*

Ubud, April 2013

Menariknya, bike tour ini serunya minta ampun. dimulai dari penjemputan si pemandu jam 6 pagi disaat mata masi beler. Lalu ke sebuah coffee plantation dan mencoba berbagai macam kopi dan minuman hangat lainnya. dilanjutkan makan pagi dengan view Gunung Batur. dan bike tour itu sendiri. Uniknya, selama perjalanan dengan sepeda, kita kan berhenti di tempat2 yang menarik dan dijelaskan mengenai seluk beluknya oleh si pemandu. Setelah nyaris 2 jam bersepeda kita diberi air mineral, pisang dan juga handuk dingin kemudian makan di rumah si pemandu. Ah serunya. 

Kapan lagi main sepeda dengan pemandangan kanan kiri sawah dan membayangkan diri ala Julia Roberts di Eat Pray Love. Ini benar2 perjalanan yang tidak akan saya lupakan. Memorable karena berhasil menyatukan teman2 dengan kesibukan maha dahsyat dan juga melewati banyak rapat perjalanan di malam hari. 

Selain bike tour yang aduhai ini masi ada hal yang tak terlupakan, yaitu Sunset di El Kabron dan aneka dessert terutama Padlova di Biku. Jatuh cinta gila2an sama keduanya. 


El Kabron, April 2013


Tiket satu sudah terpakai. Selanjutnya baru akan digunakan minggu depan. Semoga trip kali ini se-memorable ini juga. Amin 

Tuesday, April 02, 2013

DEKADE

Pernah berpikir apa yang akan terjadi 10 tahun kedepan?
Yakin banget ini bukan bagian pertanyaan dari interview kerja tentang "ekspektasi" kita di masa depan
Kenapa "ekspektasi" ? ya, karena semua jawaban yang dilontarkan merupakan harapan kita di masa depan dengan tingkat probabilitas yang masih dipertanyakan.

Sebetulnya ide tulisan ini datang dari pertambahan usia yang akan terjadi di tahun ini. 
Ya semua orang termasuk saya, akan mengalami angka 2 digit yang dirasa mulai membuat kita merefleksikan diri.
10 tahun kedepan hanya saya dan Yang Maha Kuasa yang tahu apa yang akan terjadi.
Tapi untuk 10 tahun kebelakang, sudah pasti harus kita syukuri
Kenapa? Karena yang terjadi adalah yang terbaik.
Untuk saya. Untuk kita. Untuk semua.

Saya ingin merefleksikan ada yang terjadi 10 tahun kemarin.
Saat itu mungkin sebuah perayaan ulang tahun menjadi hal yang sangat ditunggu-tunggu.
Dimasa sekolah itu, dengan segala kegiatan sekolah-teater-bimbel-jalan2.
Ditambah akhir pekan yang selalu diakhir selebrasi ulangtahun teman sekelas, teman beda kelas atau teman sepergaulan pun.
Rasanya sungguh senang, dengan baju2 berkilauan, 2digit angka yang melambangkan kedewasaan, identitas diri dalam sebentuk kartu..hahaha oh indahnya.
Nyatanya, fase setelahnya sungguh membuat pusing kepala,
Ujian-ujian yang mengantarkan fase hidup baru, yaitu bangku kuliah.

Bila diingat sungguh lucu bagaimana kisah saya sampai ke bangku kuliah.
Pemilihan tempat kuliah, lokasi kuliah dan juga tempat kost.
Sungguh sangat tidak terduga,
dan disitulah saya,
Ada ditempat yang awalnya tidak saya suka
malah sampai skrg ingin selalu kembali.
Kesana

Pernah saya menulis list tentang goals kedepannya, di tahun terakhir kuliah.
Antara lain, bekerja di stasiun tv itu, kuliah ke jenjang berikutnya dan seterusnya.
Sungguh sebuah cita-cita yang mulia
Pada masa itu.

Saya baru menyadarinya sekarang
"dreams do come true"
10 tahun kemudian, tepatnya skrg
Ada bagian dari list itu, yang sudah saya penuhi
dan ada pula yang sudah diusahakan tapi mungkin nasib berkata lain

Tidak pernah dibayangkan sebelumnya
Bahwa dalam 10 tahun ini banyak hal yang tidak terduga
Dalam hal kehidupan sehari-hari, pertemanan, relationship dan sebagainya
Semua menunjukkan progress yang signifikan

Saya jadi ingat setiap tahun baru, setiap itu pula umur kita bertambah dan senantiasa kita menuliskan resolusi-resolusi di awal tahun.
Setiap orang, dengan setiap resolusi yang ingin diwujudkan, melalui cara mereka masing-masing.
Sadar atau tidak, mungkin resolusi kita tahun kemaren tidak terwujud, bukan tidak sih, lebih tepatnya belum,
dan tahun ini, mungkin saja resolusi itu terwujud, kenapa tidak?

Pastinya menyenangkan membaca resolusi kita dan mengingatnya pada masa 10 tahun kedepan.
Kita akan lebih bijaksana dalam menghadapi kenyataan, mana hal-hal yang sudah terjadi, tidak terjadi dan juga belum terjadi.
Karena semuanya sebenarnya sudah digariskan Yang Maha Kuasa
Percaya bahwa semua yang terjadi itu yang terbaik.
Itu yang harus diingat.

10 tahun kemarin, 10 tahun yang akan datang.
Harus percaya, berdoa, berusaha.
Bahwa semua akan lebih baik lagi.
Baik dan buruknya, itu yang terbaik.

cheers 
xoxo

Thursday, February 28, 2013

Catatan dari Bulan Penuh Cinta, Februari 2013


Bulan Februari setiap tahunnya identik dengan selebrasi akan moment hari kasih sayang. Bukan hanya hari, bahkan sebulan penuh banjir kasih sayang. Saya ingat masa-masa merayakan hari spesial itu adalah dengan bertukar cokelat dengan sesama teman. Tapi takkan saya lupa dimana suatu kali kami semua mengumpulkan cokelat di satu tas plastik dan hilang pada saat kami latihan di sebuah sekolah seni terkenal di Jakarta. Moment yang berkesan sekaligus lucu karena bahkan kami diundi untuk memberikan cokelat tersebut.

Masa telah berganti. Bulan penuh cinta, saat ini dirayakan dengan menonton pagelaran yang bertema serupa. Untuk saya pribadi, pagelaran tersebut berupa konser musik. Diawali dengan konser Love Garage (EX Parking Lot), 1 Maret 2013 dan diakhiri dengan Konser Ari Lasso, Sang Dewa Cinta (JCC), 23 Februari 2013. Keduanya sangat berkesan karena musiknya dan juga teman baik serta keluarga yang turut menemani.

Love Garage + Ari Lasso

Love Garage sendiri juga saya kunjungi tahun 2012 kemarin. Saat itu saya beserta seorang teman baik menonton Bag Raiders, duo yang terkenal dengan lagu Sunlight. Sebetulnya, saya lebih tertarik dengan packaging acaranya yang cukup unik. Dan ini menjadi bekal pengalaman yang saya bawa pada Love Garage 2013. Saya baru pertama kali ntn sebuah konser yang memberikan jas hujan plastik dan juga status stiker secara cuma-cuma. Status stiker ini sungguh unik dimana banyak dari pengunjung menggunakannya di baju mereka sehingga mudah diidentifikasi siapa yang sedang mencari pasangan, fling atau bahkan teman sepergaulan. Yang unik di Love Garage 2013 ini adalah adanya undakan-undakan yang terbuat dari kayu dimana diatasnya setiap beberapa menit disemburkan angin dingin. Spot ini bagi saya merupakan spot terbaik untuk melihat performance band favorit seperti Ra Ra Riot (selama sebulan penuh saya mendengarkan Beta Love non stop dan voila akhirnya mereka tampil) dan juga band tersohor Yeah Yeah Yeahs ( lagu Maps benar-benar membuat saya jatuh cinta). Untuk YYYs sendiri memang spektakuler penampilannya, sang vokalis yang juga satu-satunya perempuan di band tersebut, Karen O bervokal prima, enerjik dan sangat stylish. Bahkan saat membawakan sebuah lagu, dia memasukkan mic ke mulut sambil berteriak. Sangat-sangat menakjubkan.


Love Garage

Konser penutupan bulan Februari yang saya tonton adalah Ari Lasso. Ini mungkin menjadi pelipur lara karena sebelumnya saya tidak menyaksikan Konser Mahakarya. Dan berita yang ada di linimasa, Dewa19 akan reuni dan menyanyikan 7 lagu. Konser ini juga diiringi oleh Magenta Orchestra (Andi Rianto). Saya kebetulan beberapa kali menonton Harmoni dan juga Deluxe Symphony dimana keduanya merupakan pagelaran yang sangat amat apik oleh Andi Rianto. Konsep sekaligus aransemen dari kedua acara itu memang berbeda dengan acara lain. Terlihat elegan dan juga dibawakan dengan gaya yang berbeda. Tidak ada alasan untuk tidak menontonnya pikir saya. Lalu hadirlah saya di JCC malam itu. Disamping ketidakadaan monitor di samping panggung dan juga gelang penanda, konser ini sangat menarik dan juga mengobati kerinduan penggemar Ari Lasso dan juga Dewa19. Selain lagu solonya, duet dengan Melly Goesla, BCL dan Titi DJ cukup menyita perhatian. Namun GONG nya menurut saya tetap dipegang oleh reuni Dewa19. Tanpa banyak kata, lagu-lagi hits dimainkan dan membuat koor sepanjang sisa konser. Cinta Kan Membawamu Kembali, Elang, Restoe Bumi, Aku Disini Untukmu, Satu Hati, Cukup Siti Nurbaya, Kangen (dibawakan format awal Dewa19). Konser ini ditutup dengan encore Kamulah Satu-Satunya. Benar-benar konser yang membawa saya terbang ke berbagai kenangan.

Sebuah Perenungan dalam Perjalanan 30 Menit


Terkadang kita suka melakukan small talk dengan orang lain tentang isu2 tertentu yang sebenarnya hanya untuk mengisi waktu semata. Misalnya di dalam taksi. Tanpa kita sadari, kadang hal-hal menarik kita temukan lewat interaksi dengan sang pengemudi. Kalo tidak percaya, cobalah sesekali berinteraksi dengan mereka. Saya punya beberapa pengalaman unik dari interaksi dengan beberapa darinya. Yang saya ingat, suatu hari yang sudah agak larut, saya akan kembali ke rumah dari kemang. tiba2 sang pengemudi bertanya mau kemana dan lewat mana. Lama kelamaan, dia bertanya persisnya disebelah mana. dia kemudian bergumam tentang daerah rumah saya dan juga menebak nama saya. Saya jujur saja saat itu berencana untuk turun dari taksi karena ketakutan. anehnya dia menyebut nama tetangga saya. Dari situ saya mencoba menggali informasi lebih sembari komat kamit melantunkan doa yang saya ingat dalam kepala. Dan ternyata saya baru sadar setelah akhirnya dia berujar bahwa dia itu teman karate saya semasa sd dan memang tinggal di dekat rumah saya pada masanya. Luarbiasa. Rasanya semacam tali kasih.

Kali kedua, saya baru selesai les dan memutuskan untuk naik taksi karena cuaca agak mendung. Kebetulan sang pengemudi taksi baru hadir ke pool taksi karena ada pelanggan dari apartemen sebelah yang membatalkan pesanannya. Lalu saya menginstruksikan arah perjalanan saya. lucunya sang pengemudi berujar : “Wah saya baru tau lewat sini.”. Beberapa kali memang saya cukup stress kalo menemui pengemudi yang tidak tahu jalan sama sekali dan ternyata baru 3 hari masa kerjanya. Nah dari asumsi itu saya iseng bertanya : “sudah berapa lama pak bekerja di perusahaan ini?”. Dari pertanyaan itu biasanya cerita berlanjut. saya sering bertemu pengemudi yang ternyata dahulunya bekerja di perusahaan besar kemudian di phk. Sungguh miris mendengarnya. Cerita bergulir ketika si bapak yang saya temui ini berujar bahwa dia baru 1 tahun lebih mengemudi dan dahulu dia bekerja di sebuah perusahaan besar di bagian operations. Dan dia telah menduduki posisi yang cukup tinggi, manager kalo tidak salah. dia kemudian melanjutkan setelahnya ia menggunakan uang pesangon untuk membangun bisnis yang ternyata tidak berhasil. Dia pun sempat membantu koleganya dengan meminjamkan kartu kreditnya dan ironisnya si kolega tidak mampu membayar cicilan dan akhirnya si bapak tadi membantu membayar cicilannya. Sontak saya takjub mendengar penuturan ini. si bapak bercerita dengan nada yang datar, tanpa adanya lonjakan emosi. Sampai akhirnya saya sendiri malu hati. Bayangkan si bapak ini tidak mengeluh dengan perjalanan hidupnya saat ini. Dia sudah punya rencana kedepan dan percaya bahwa suatu saat keadaan akan menjadi lebih baik seperti dulu. jujur mendengar seluruh cerita dari si bapak saya merasa harus introspeksi diri lagi. Kadang saya masi mengeluh tentang hal-hal kecil yang mungkin tidak sesuai dengan ekspektasi saya jika dibandingkan dengan bapak ini yang menjalaninya dengan legowo. Bahkan dia menambahkan, asal anak saya bisa sekolah mbak. Sungguh perjalanan 30 menit yang membuka mata saya.